Beranda » Indonesia » Persepsi Negatif Tentang Berwisata ke TORAJA

Jangan sampai rencana liburanmu ke TORAJA gagal karena persepsi Negatif yang tidak benar !!!

Toraja merupakan salah satu destinasi wisata di Sulawesi Selatan yang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Keindahan alam, adat yang unik, keramahan penduduk serta suhu udara yang sejuk menjadi magnet bagi turis lokal maupun asing. Bagi mereka yang belum pernah berlibur ke tanah Toraja, tentunya berbagai persepsi negatif muncul. Tentunya hal ini sebuah kewajaran mengingat Toraja merupakan daerah dengan tradisi adat yang masih kental. Berikut ini Persepsi Negatif Tentang Berwisata ke TORAJA yang sering terdengar, Semoga setelah menyimaknya kalian bisa mengetahui yang sebenarnya dan segera liburan ke Toraja yaa…!!!


1. Sulit Menemukan Makanan Halal

Persepsi Negatif Tentang Berwisata ke TORAJA
Persepsi Negatif Tentang Berwisata ke TORAJA

Persepsi Negatif Tentang Berwisata ke Toraja yang sering kita dengar adalah daerah Toraja dihuni oleh sebagian besar masyarakat yang mengonsumsi makanan yang bisa saja kalian anggap haram.

Seiring dengan perkembangan Pariwisata di Toraja saat ini sudah banyak tempat makan yang menjajakan makanan halal seperti bakso daging kerbau dan ikan mas dengan cita rasa yang khas serta menu – menu lain yang tentunya mampu memanjakan lidah kalian.

Jangan khawatir jika kalian juga salah masuk tempat makan, pemilik warung juga akan memberitahu jenis makanan apa saja yang tersedia dan tidak akan segan memberi informasi tempat makan yang memiliki menu sesuai keinginanmu. Jadi, kalian tidak perlu takut jika berkunjung ke Toraja dan ingin mengisi perut dengan makanan yang berlabel halal.

2. Bahasa Daerah

Mampu menggunakan dan memahami bahasa lokal merupakan nilai tambah ketika kalian berkunjung ke suatu tempat. tentunya, anda dengan mudahnya dapat berkomunikasi serta kedekatan emosional lebih mudah tercapai dengan masyarakat lokal setempat. banyak Persepsi Negatif Tentang Berwisata ke Toraja tentang bahasa lokal dan bahasa indonesia.

Meskipun Toraja masih kental dengan tradisi dan memiliki bahasa lokal sendiri, kalian tidak perlu khawatir jika datang berlibur dan tidak bisa berbahasa Toraja sama sekali. Masyarakat Toraja merupakan masyarakat modern yang tinggal di daerah yang menjunjung tinggi adat istiadat, jadi mereka juga tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari bahkan sebagian besar juga sudah bisa berbahasa Inggris dengan baik.

3. Akses Transportasi yang minim

Persepsi Negatif Tentang Berwisata ke TORAJA

Meskipun Toraja termasuk daerah yang berada di atas pegunungan, akses transportasi dengan berbagai jenis dapat dengan mudahnya kalian temui di berbagai tempat.

Kamu bisa menggunakan bus, pesawat atau mobil ketika akan berwisata ke Toraja. Ada banyak perusahaan transportasi Bus yang melayani rute dari Makassar (Ibukota Sulawesi Selatan) ke Toraja, kalian bisa memperoleh tketnya dengan mudah melalui website atau melalui travel agent seperti HERMON TOUR . Selain Bus kalian juga bisa menggunakan Pesawat Terbang ke Toraja melalui Bandara International Hasanuddin ke Bandara Pongtiku, kedepannya transportasi udara ke Toraja akan semakin mudah dengan hadirnya bandara baru yang saat ini masih sementara dalam tahap pembangunan di daerah Buntuk Kuni kecamatan Mengkendek, bahkan tidak tanggung tanggung bandara ini rencananya akan bertaraf international.

4. Penginapan / Hotel kurang

Persepsi Negatif Tentang Berwisata ke TORAJA
Persepsi Negatif Tentang Berwisata ke TORAJA

Toraja merupakan daerah wisata sejak tahun 90an, salah satu akomodasi penting dalam dunia pariwisata adalah tempat menginap berupa Hotel ataupun Wisma. Sejak menjadi tujuan wisata, Toraja terus berbenah dalam hal pembangunan Hotel dan Wisma terbukti dengan banyaknya hotel – hotel serta wisama yang bersebaran di sepanjang jalan di Toraja.

Jadi, kalian tidak perlu pusing akan bermalam dimana ketika berlibur ke Toraja. Kalian akan dengan mudahnya menemukan di peta online maupun ketika berkeliling Toraja.

5. Kurangnya Petunjuk Wisata

Berbagai papan penunjuk wisata baik yang dibuat oleh pemerintah maupun masyarakat dengan mudahnya bisa kalian temui di pinggir jalan lengkap dengan informasi jarak. Terkadang ada pula yang menyertakannya dengan berbagai kalimat yang menyambut atau menyemangati wisatawan.

Jika kalian masih merasa kesulitan menemukan tempat wisata, kamu bisa menyewa jasa guide di Hermon Tour atau bertanya ke masyarakat sekitar, mereka tidak akan segan memberi tahu kalian.

6. Ketinggalan Jadwal Upacara Adat Kematian

Persepsi Negatif Tentang Berwisata ke TORAJA
MAKASSAR, 29/12 – MA`PASONGLO. Sejumlah warga mengarak jenasah pada rangkaian upacara adat Pemakaman Rambu Solo` di Sigentu, Toraja Utara, Sulsel, Rabu (28/12). Ritual Ma”pasonglo merupkan ritual arak-arakan jenasah dan keluarga dari Tongkonan ke Lakkian yang masih dalam rangkain upacara adat Pemakaman Rambu Solo`. FOTO ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/Koz/mes/11.

Salah satu destinasi wisata yang menarik di Toraja adalah upacara adat Rambu Solo’ yanng merupakan upacara pemakaman dengan anggaran yang sangat besar. Tentunya, setiap wisatawan pasti tidak ingin melewatkan jadwal upacara adat yang satu ini.

Biasanya upacara adat dimulai bulan Juni hingga bulan Desember. Kalian bisa juga mendapatkan informasi di Hermon Tour atau ke dinas pariwisata setempat.

Jika kamu beruntung, terkadang ada juga upacara adat Rambu Solo’ yang diadakan bukan pada bulan Juni hingga Desember. Terkadang ada pula yang menggelarnya di bulan Maret atau Mei tergantung kesepakatan keluarga yang mengadakannya.

7. Takut Melanggar Adat

Persepsi Negatif Tentang Berwisata ke TORAJA
Pengunjung memilih produk kerajinan Tau-tau (Boneka kayu) di tempat wisata Londa, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Selasa, (18/8). Produk souvenir Tau-tau dibrendol dengan harga antara Rp35 ribu hingga Rp500 ribu perpasang tergantung tingkat ukuran dan kesulitannya. ANTARA FOTO/Darwin Fatir/pras/15.

Masyarakat Toraja dikenal memang masih memegang teguh nilai-nilai warisan leluhur. Bahkan beberapa berita menjadi viral mengenai wisatawan yang dikenai denda adat berupa memberi makan sejumlah besar orang dengan daging hewan (tergantung kesepakatan pemangku adat) karena melakukan perbuatan yang tidak semestinya.

Tentunya kamu tidak perlu khawatir, sepanjang kamu masih bisa menjaga tangan atau kaki untuk tidak jahil serta bertanya ke masyarakat mengenai pantangan yang ada, dijamin kamu tidak perlu pusing mengenai hal ini.

8. Minim Tempat Ibadah

Persepsi Negatif Tentang Berwisata ke TORAJA

Sebagai daerah dengan tingkat toleransi yang masih tinggi, Toraja memiliki sejumlah tempat ibadah baik berupa Gereja maupun Masjid atau Mushola yang dengan mudahnya dapat diakses di tempat wisata atau tempat penginapan.

Nah sekarang bagaimana menurut kalian, masih memiliki persepsi negatif ketika hendak berlibur ke Toraja? Mending buang jauh-jauh pemikiran tersebut. Beberapa wisatawan bahkan tidak bosan berulang kali mengunjungi Toraja dan berpesan agar jangan mati sebelum ke TORAJA.


# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.